Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Buku Sutra yang Tidak Bisa Dilihat

Tetsugen, murid Zen, merencanakan karya besar mencetak tujuh ribu buah buku sutra, yang sampai saat itu hanya ada dalam bahasa Tiong Hwa.

Ia menjelajahi panjang dan luasnya negara Jepang mengumpulkan dana untuk rencana ini. Beberapa orang kayaa memberinya sebanyak seratus butir emas, tetapi kebanyakan ia mendapatkan uang receh dari petani. Tetsugen menyatakan terimakasih sama kepada setiap penderma, tidak peduli jumlah uang yang diberikannya.

Sesudah selama sepuluh tahun ia akhirnya mengumpulkan dana yang diperlukan untuk karya itu. Justru waktu itu sungai Uji meluap dan ribuan tertinggal tanpa makan dan perumahan. Tetsugen membaagikan semuaa uang yang ia kumpulkan bagi rencananya untuk rakyat sengsara ini.

Lalu ia mulai mengumpulkan dana lagi. Lagi beberapa tahun lewat, sebelum ia mendapatkan uang yang dibutuhkan, lalu ada wabah menjalar di seluruh negara, maka Tetsugen memberikan semua yang ia kumpulkan untuk meringankan penderitaan.

Sekali lagi ia mengadakan perjalanan dan, duapuluh tahun kemudian, cita-citanya punya Kitab Suci dalam bahasa Jepang akhirnya menjadi kenyataan.

Percetakan, yang menerbitkan buku pertama dari sutra itu ada di pertapaan Obaku, di Kyoto. Orang Jepang menceritakan kepada anak-anaknya, bahwa Tetsugen menerbitkan tiga kali cetakan sutra seluruhnya, dan bahwa dua yang pertama tidak bisa dilihat dan jauh lebih baik daripada yang ketiga.

Patung Budha yang terbakar

Pada suatu malamhari di musim salju yang dingin, seorang pertapa mencari tempat berteduh di sebuah kuil. Orang lelaki yang malang itu berdiri menggigil di tempat di mana serpih-serpih salju berjatuhan terus-menerus. Maka imam penjaga kuil itupun kontan berpikir bahwa orang ini mesti dipersilakan masuk, katanya, "Baiklah, anda dapat tinggal di tempat ini, tetapi hanya selama satu malam. Tempat ini adalah kuil, dan bukan penginapan. Besok pagi anda harus sudah pergi dari sini."

Pada malam hari yang pekat itu, imam mendengar suara aneh yang gemeretak. Ia bergegas menuju kuil dan melihat pemandangan yang sungguh tidak masuk akal. Orang asing tadi menghangatkan dirinya dengan perapian yang dibuatnya di dalam kuil. Sebuah patung Budha yang terbuat dari kayu hilang. Imam itupun bertanya, "Di mana patung itu ?"

Orang yang tersesat itupun menunjuk ke arah perapian, dan berkata, "Saya pikir keadaan dingin ini bisa membuat saya mati."

Imam itupun berteriak, "Apakah anda tidak punya otak ? Apakah anda tahu apa yang telah anda buat ? Itu kan patung sang Budha. Anda telah membakar sang Budha !"

Api pun sedikit demi sedikit mengecil. Petapa itu menatap perapian dan mulai mencongkel-congkelnya dengan tongkatnya.

"Apa yang anda buat sekarang?" teriak imam itu.

"Saya sedang mencari tulang-tulang sang Budha yang anda katakan tadi telah saya bakar."

Kemudian imam itu melaporkan kejadian itu kepada seorang guru Zen yang mengatakan, "Kamu semestinya pastas disebut imam yang jelek, sebab kamu lebih menghargai sebuah patung Budha yang mati daripada seorang manusia yang hidup."

Dov Ber dan Baal Shem

Dov Ber itu bukan orang biasa. Orang-orang yang datang menghadapnya gemetar. Ia itu ahli ternama menguasai Talmud, tak tergoyahkan, tak dimengerti dalam ajaran. Dan ia tidak pernah ketawa. Ia yakin akan gunanya amenyiksa diri dan orang tahu ia berpuasa empat hari berturut-turut. Akhirnya kekerasan Dov Ber itu merobohkan dia. Ia jadi sakit payah dan tidak ada yang bisa dilakukan dokter utnuk menyembuhkannya. Sebagai jalan terakhir orang mengusulkan : "Mengapa tidak minta tolong Baal Shem Tov ?"

Dov Ber setuju, merkipun semula ia menolak saran itu, karena ia sama sekali tidak cocok dengan Baal Shem yang dianggap seperti penganut bidaah. Juga sedang Dov Ber itu percaya bahwa hidup hanya berarti karena sengsara cobaannya, Baal Shem berusaha meringankan drita dan terus terang mengajar, bahwa kegembiraanlah yang memberi arti kepada hidup.

Sudah lewat tengah malam, ketika Baal Shem menanggapi panggilan dan datang bermobil, mengenakan jas dari wol dan tutup kepala lulang binatang mahal. Ia masuk kamar si sakit dan memberikannya Buku Sinar Hidup, yang dibuka Dov Ber dan dibaca dengan suara keras.

Baru satu menit ia membaca ketika, begitu cerita orang, Baal Shem menyela: "Ada sesuatu yang kurang," katanya. "Sesuatu yang kurang dalam imanmu."

"Dan apa itu ?" tanya si sakit.

"Jiwa" jawab Baal Shem Tov.

Patung Budha di Kamakura

Patung Budha di Kamakura itu disimpan dalam kuil sampai pada suatu hari badai besar merobohkan kuilnya. Lalu bertahun-tahun patung besar itu berdiri di luar, tertimpa matahari dan hujan dan angin serta perubahan cuaca.

Ketika seorang imam mengumpulkan dana untuk membangun kuil, patung itu nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata : "Kuil itu penjara, bukan rumah. Biar aku di luar kena serbuan hidup. Di situ tempatku."

Stasiun Dekat Rel Kereta Api

Seorang wisatawan penat mengeluh : "Mengapa mereka mendirikan stasiun tiga kilometer jauhnya dari kampung?"

Kuli yang menolong : "Seharusnya mereka berpikir : akan baik kiranya kalau stasiun itu dekat kereta tuan."
Stasiun serba modern
tiga kilometer jauhnya dari rel kereta api
itu sama gilanya
seperti kuil ramai dikunjungi
tiga sentimeter jauh dari hidup